Bersama Beda 1

Saya beribadah lima kali sehari. Tanpa mengurangi rasa beriman, Saya akui kadang lima kali dikorting menjadi empat kali sehari. Dengan alasan ngantuk, ketiduran, atau lupa, atau masalah kerjaan, Saya dengan tidak tau dirinya meninggalkan satu waktu ibadah. Atau dua. Biarlah masalah ini menjadi urusan Saya dengan Yang Punya Saya.

Oh, Saya muslim dan Saya punya kekasih. Pacar disebutnya. Sekali lagi, biarlah masalah ini menjadi urusan Saya dengan Yang Maha Mencintai. Tapi pacar Saya tidak pernah beribadah lima kali sehari. Dia hanya beribadah seminggu sekali. Enak ya? Enak kok. Saya kagum dengan keseriusannya dalam mendalami keyakinan Katolik. Tanpa bermaksud membandingkan, tulisan ini pun tidak bermaksud juga untuk menyentuh sisi SARA.

Tapi betapa menyenangkannya ya kalau setiap makan kita berucap doa yang sama. Setiap beribadah ada Imam atau ada kekasih yang selalu di sisi saat misa. Atau sholat  Ied, misa natal dilakukan bersama. Betapa menyenangkan ya. Saya iri kok dengan teman-teman yang posting foto instagram sedang silaturahmi ke rumah pacar saat lebaran. Saya juga iri kok dengan teman yang menjalani puasa, berhaus dan berlapar ria bersama pacarnya dan tweeting ‘happy fasting dear’ satu sama lain. Saya iri juga dengan teman yang punya obrolan sama dengan pacarnya yang seiman. Seperti membicarakan cara ibadah, waktu ibadah, dan lain sebagainya. Iya, Saya iri.

Saya berulang kali berpikir soal ini. Soal kemana kami akan melangkah. Bagaimana kami akan melanjutkan masa depan dengan atau tanpa satu sama lain. Kami mempunyai rencana jangka panjang. Kami punya cita-cita tentang bagaimana warna tema resepsi pernikahan kami, dimana kami akan tinggal, kemana kami akan berbulan madu, bagaimana kami akan membagi waktu jika saat berkeluarga masing-masing kami bekerja. Bahkan soal rumah yang kami sukai, sofa yang nyaman untuk di ruang tamu, ruang makan dengan jendela besar menghadap taman, hampir semua kami bicarakan. Tapi ada satu bagian kosong sebelum semua dapat kami jalankan. Tepat pada bagian sebelum resepsi itulah kami belum bisa gambarkan sampai sekarang. Akad atau pemberkatan? Masing-masing dari kami tentunya mempertahankan keyakinannya. Tentu saja kami saling menyampaikan kalau kami tetap akan pada keyakinan masing-masing.

Menyesal atas keputusan yang Saya buat? Pernah. Ah, tapi coba Saya ingat kembali.

Bersama dia Saya diingatkan untuk terus berdoa. Setiap sebelum makan, dia akan diam sebentar, menggariskan salib di badannya, kemudian makan. Sayapun tidak ketinggalan untuk mengucap doa dengan cara Saya. Setiap Saya hampir melewatkan waktu sholat, dia mengingatkan dengan ‘besok Minggu ikut aku ke gereja aja kalo gitu caranya’. Dan beberapa kali mengatakan bahwa melihat saya sholat, walaupun jauh dari sempurna, dia juga merasa senang dan tenang. Oh iya, dia juga tidak jarang menemani Saya puasa. Tapi Saya sendiri tidak pernah berhasil menemani puasa pra-paskah-nya. Untuk apa juga Saya iri, dengannya Saya mendapat banyak ilmu. Tidak jarang kami saling berargumen mengenai keyakinan masing-masing. Saya menanyakan apa yang tidak pernah Saya pelajari, Saya mengungkapkan apa yang Saya yakini dan tidak. Bahkan beberapa kali Saya malu sendiri ketika dia lebih fasih soal peraturan ibadah Saya dibanding Saya sendiri.

Ah buat apa Saya iri.

Kalau Saya iri, mungkin judul tulisan ini tidak akan Saya beri nomor, dan Saya tidak cukup kuat untuk melanjutkan tulisan tentang kami lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s