MELEPAS LAJANG

Masih jauh. Umur Saya masih 22 tahun kok. Tapi bukan berarti keluarga dan teman-teman papi Saya nggak iseng bertanya, “habis ini kamu yaa, Pur”, atau “wah bapak bentar lagi mantu nih!”. Yang selalu dijawab bapak dengan tawanya. Saya sendiri dulu punya target menikah di umur 25 tahun. Dulu Saya ingin sekali menikah lebih muda supaya nantinya anak Saya punya ibu yang masih muda dan mudah-mudahan sehat. Itu tetap ada di rencana Saya paling nggak sampai awal-awal kuliah. Tampaknya lingkungan memang bisa merubah seseorang. Rencana umur menikah Saya lantas mundur 4 tahun menjadi 29. Bukan berarti harus 29, tapi ’29 juga nggak apa-apa’. Belum kok, Saya belum obral.

Saya cuma lebih banyak melihat kesempatan, aktivitas, dan pencapaian lain yang bisa dilakukan sebelum menikah. Saya dulu berpikir untuk bekerja sambil menikah dan punya anak. Tapi dengan pengalaman kerja Saya sekarang, Saya berpikir ‘yakin?’. Kalau Saya masih bekerja di industri media, periklanan, atau apapun yang ada hubungannya dengan brand, dijamin anak Saya nggak bakal sehat. Atau nggak mengenal kalau Saya ini ibunya karena Saya selalu pulang malam. Belum tau sih, apa yang bakal Saya lakukan 2 atau 3 tahun kedepan. Tapi selain masalah pekerjaan, masih banyak hal lain juga yang ingin Saya capai. Saya masih ingin menabung, menikmati uang sendiri, jalan-jalan, hanging out dengan teman, atau keluar negri, ke pulau lain di negri sendiri yang belum Saya kunjungi, bahkan Saya yang sekarang masih mau mencari prestasi buat Indonesia dan almamater dengan teman-teman paduan suara di kampus. Hal ini juga yang selalu dibilang mami Saya, “ngapain sih, udah lulus juga kok”. Tapi Saya masih mau. Oh, bahkan Saya masih mau mencoba audisi buat masuk ke paduan suara professional. Sebegitunya.

Duh, Saya yang masih suka tidur seharian, menghabiskan uang buat jajan dan sewa komik, masih sering lupa menaruh barang, main sampai malam, kok ya mau nikah? Mami papi Saya pasti ketawa ngakak.

Tapi Saya pasti bakal excited kalau ada teman Saya yang menikah. Apalagi kalau itu sahabat sendiri. Saya bakalan all out buat pernikahannya. Dan ketika teman Saya cerita kalau dia dan calon pacarnya mungkin akan serius, Saya bingung. Padahal itu baru calon pacar, dan statusnya masih ‘mungkin akan serius’. Saya anggap itu serius sih. Secara umur teman Saya tahun ini sudah berangka 25. Calon pacarnya ini di akhir 20-an. Dan dari ceritanya, Saya lihat bibit bobot bebetnya oke. Terus gimana dengan kita?

Saya langsung berubah posesif. Layaknya bapak ke anak perempuannya. Saya nggak bisa bilang kalau Saya menunjukkan kebahagiaan bahwa dia akhirnya serius dengan jungkir balik kegirangan. Sungguh Saya senang. Tapi nggak dengan muka Saya. Saya tau Saya nggak boleh bermuka datar. Apa boleh buat? Saya memikirkan kehidupan pertemanan kami yang pastinya bakal berbeda kalau dia menjadi istri orang. Karena itu yang Saya tanyakan adalah, “bakal dilarang nggak kalau main sama kita?”. Memang sih, selayaknya suami bakal sedikit mengerem perihal hanging out istrinya, calonnya teman Saya bau-baunya bakal demikian. Tapi kok Saya maunya si suami memperbolehkan kami main seperti biasa, menginap, tertawa sampai pagi… ya mana boleh lah ya?

Lalu teman Saya ini juga bakal menjadi bagian dari keluarga suaminya. Dengan keadaan biasa sekarang saja dia susah ditemui, apalagi ‘dimiliki’ keluarga lain? Dan mungkin cara pandangnya terhadap dunia yang sehari-hari kami jadikan canda bakal berubah. Mungkin dia nggak akan lagi menertawai hal yang sama dengan Saya, mungkin dia bakal nggak punya waktu lagi buat Saya. Mungkin curhatan Saya bukan lagi jadi hal yang penting buatnya. Saya jadi nggak rela dia menikah.

Kok Saya jadi egois sekali ya buat pernikahan teman dan diri sendiri? Padahal teman Saya yang sedang lugu-lugu jatuh cintanya itu pasti, setidaknya, butuh dukungan dan semangat. Tapi sungguh, Saya terlalu posesif.

Untuk menutup tulisan ini, Saya belum punya konklusi. Saya cuma sedang menikmati asiknya meledek dia yang sedang jatuh cinta.

Advertisements

3 thoughts on “MELEPAS LAJANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s