PAPI

Saya baru saja selesai ngobrol sama mami. Seperti biasa kalau kita berdua baru ketemu setelah sebulan atau lebih nggak pernah tatap muka, pasti bakal ngobrol sampai tengah malam. Kayaknya Saya sama seperti ibu Saya, doyan ngobrol. Kali ini mami juga cerita dari tentang adik Saya yang bab 24x sampai tentang sepatu. She’s a woman on fire. Rasanya walaupun sedang cerita kalau dirinya sedang down, mami bakal tetap cerita dengan semangat. Makanya, betapa Saya nggak tega kalau lihat mami benar-benar sedih. Karena biasanya she can handle it.
Kali ini mami juga cerita tentang papi. Dan ceritanya ini membuat Saya berpikir betapa luar biasanya bapak Saya ini. Di tengah keadaan keluarga yang sedemikian rumitnya beliau bisa tetap bersikap tanpa harus seperti orang kebakaran jenggot. Beliau tetap tenang dan sikapnya ini yang membuat kami sekeluarga juga bisa tenang. Kata mami, “bayangin kalau nahkodanya meleng, kapalnya kan juga jadi oleng”. Benar juga ya. Betapa papi Saya, dan bapak-bapak lainnya, telah menjadi manusia yang luar biasa. Yang mampu memimpin rumah tangga, kalau papi Saya dengan 3 anak apalagi dengan anak perempuannya tinggal jauh dari pandangan matanya.
Papi saya hebat sekali. Beliau membanting tulang untuk dirinya dan 4 orang untuk makan selama bertahun-tahun. Saya tau nggak jarang papi difitnah orang, dibohongi orang, tapi Saya salut dengan kebaikannya. Bahkan keterlaluan baiknya. Belum tentu banyak orang yang bakal memberi uang ke penipu. Papi Saya pernah ditipu oleh seseorang, dan secara nggak tau diri orang itu kembali dan minta uang lagi. Dan Papi Saya tetap memberinya,karena Papi bilang anaknya masih kecil, kasihan. Saya sampai menganga.
Saya dan mami sering bilang, “papi ini jangan terlalu baik”. Tapi beliau mengajarkan kami untuk tetap memberi biarpun kita sendiri nggak punya uang. Dan darinya juga Saya belajar untuk tidak menjadi orang yang panikan, paranoid, dan ragu-ragu.
Yang masih selalu Saya ingat juga adalah ketika jaman sekolah. Saya bukan juara kelas. Tapi papi Saya juga nggak pernah sekalipun mengharuskan Saya untuk jadi juara kelas. Menurutnya yang penting adalah sholat  “Kakak nggak apa-apa nggak ranking, yang penting sholatnya ya,” katanya  Sampai sekarang juga beliau selalu kultum selesai sholat berjamaah sekeluarga. Papi selalu menekankan pentingnya sholat, baca al-qur’an dan baca buku. Jadilah papi partner diajak ke toko yang paling asik. Katanya nanti semakin tua semakin nggak punya waktu untuk baca buku, apalagi tentang agama.
Papi juga selalu menghargai tiap hasil karya yang Saya dan adik-adik buat. Beliau bangga sekali dengan anak-anaknya. Walaupun selalu terselip omongan “apalagi kalau sholatnya lebih tepat waktu”, tapi papi selalu memuji kami. Wah, tapi jangan tanya kalau beliau sudah marah. Rasanya Saya ingin menekan tombol idle sesaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s