YA SUDAHLAH

Ini bukan judul lagunya Bondan Prakoso yang Saya nggak suka itu.

Apa yang bakal kamu lakukan saat menghadapi masa sulit? Masa sulit di sini maksud Saya bukan yang sulit-sulit amat. Biasalah, cuma sekedar masalah cinta-cintaan. Galau, katanya. Dari masalah pacar selingkuh atau dirinya sendiri yang kebingungan menentukan satu dari dua pilihan. Saya bilang galau  najis. Tapi I do feel it too. Saya juga jijik sendiri kalau Saya udah mulai mellow.

Seperti yang Saya tulis sebelumnya untuk lebih “bodo amat”, Saya juga mencoba menerapkan itu ke soal cinta-cintaan Saya. Padahal Saya tau masalah Saya ini nggak bisa di bodo-amat-in, tapi ya sudahlah skip dulu aja masalah itu. Tapi kebanyakan dari kita pasti bakal curhat ke teman. Nggak salah. Karena dengan berbagi kita juga jadi sedikit lebih lega. Merasa lebih kuat walaupun orang yang kita curhatin itu nggak memberi masukan apapun. Kalau Saya orangnya suka banget cerita. Tapi Saya nggak terlalu mengharapkan masukan kalau Saya memang nggak minta. So far, Saya curhat supaya lega aja. Saya juga nggak mau kalau orang itu jadi ikutan bingung mikirin masalah Saya, hehe.

Tapi seberapa jauh kita bakal curhat ke orang lain? Saaat pertama kita kena masalahnya kah? Atau sampai akhir kita menemukan happy ending? Be a good listener. Nyatanya nggak semua orang bisa dan mau mendengar. Bisa dan mau di sini beda. Kata mami, Saya ini pendengar yang cukup baik. Tapi Saya ngaku, nggak semua hal mau Saya dengar. Misalnya mendengar keluhan orang terus-terusan. Capek lho dengerinnya. Karena Saya sebel yang kayak gitu, makannya jadi pelajaran buat diri sendiri untuk nggak mengeluh terus-terusan. Ternyata orang juga males dengernya.

Kalau udah sampai batas dimana Saya pikir udah cukup curhatan Saya ke orang lain, Saya bakal berhenti dan bilang ke diri senidiri “ya udahlah.” Apalagi kalau Saya tau masalahnya nggak bakal kelar dengan mudah juga. Karena Saya sendiri orangnya juga nggak enakan, kalau kira-kira orang itu udah bosan ya Saya stop. Masalahnya, berapa banyak orang yang sadar when to stop? Kenyataannya curhat emang bikin nyandu.

Saya pernah ada dalam posisi demikian, jadi a very good listener. Sampai titik dimana Saya sendiri udah mau teriak “please get over it!“. Tapi bukankah orang yang too much curhat itu berarti sedang berada di posisi yang lemah? Kata ‘nampol’ apa yang harusnya kita bilang supaya dia paham kalau dia udah berlebihan, dan masalah yang dihadapinya sebetulnya adalah dirinya sendiri? Bukan cuma “nggak semua orang adalah pendengar yang baik”, tapi juga “nggak semua orang adalah penerima kritik yang baik”.

Saya sih percaya orang tersebut cepat atau lambat bakal sadar sendiri kalau dia harus move on. Entah itu butuh 2 bulan, 2 tahun atau 12 tahun. Tapi lagi-lagi ini jadi pelajaran buat Saya untuk nggak ambil pusing masalah seperti cinta-cintaan. Saya bisa bilang ke orang “ya udah lah ya”, jadi Saya juga harus berani ke diri sendiri buat bilang “ya udah lah ya”. Dan memang, nggak pernah gampang untuk melakukannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s