PILIHAN PEREMPUAN

Kali ini soal pernikahan lagi. Entah angin apa yang merasuki Saya sehingga excited ngomongin masalah ini. Oh tapi Saya jadi ingat. Bulan depan majalah tempat Saya bekerja akan membahas salah satunya soal pernikahan di usia muda. Lalu teman Saya juga kabarnya sudah ada plan untuk married. Jadilah Saya bocah 22 tahun mencoba memasukkan semua ke dalam otak lalu memprosesnya hingga menjadi pikiran-pikiran yang tidak ada jawabannya juga.
Seperti, young marriage: yes or no?

Umur berapa sebenarnya perempuan dibilang terlalu muda untuk menikah? Bukankah umur 20 tahun sesungguhnya sudah termasuk ideal untuk menikah? Tapi nyatanya selain beberapa teman Saya yang melaksanakan pernikahan di umur 20-nya, ada juga teman Saya yang tidak setuju untuk menikah semuda itu.

Seperti pada tulisan Saya sebelumnya. Usia ideal menurut Saya adalah 27. Ada yang bilang sudah telat, ada yang bilang terlampau muda. Lantas masing-masing berargumen mengenai pendapatnya.
Pada intinya menikah di early 20s dianggap menutup segala kesempatan yang ada. Di umur itu masih banyak prestasi yang bisa dicapai, dibanding menyerahkan diri untuk dipinang lelaki dan hidup dengan harta suami.

Namun bukankah sebaiknya kita tidak main hakim sendiri? Siapa tau teman-teman kita memang memilih untuk menjadi istri orang dan lebih suka mengurus rumah tangga. Mungkin cintanya yang besar membuatnya tidak sabar untuk menyambut suami pulang kerja, membuatkannya makan malam dan sekedar memijatnya agar hilang penatnya. Mungkin pekerjaan ibu rumah tangga yang maha mulia itu memang prioritasnya. Bukan karena terpaksa, bukan karena tertekan atau malas bekerja. Bahkan rasa malas itu sendiri adalah hak setiap orang bukan?

Pada akhirnya ini mengenai pilihan terbaik dari diri sendiri untuk diri sendiri juga. Siapa tau teman-teman yang menentang habis-habisan menikah di usia muda justru sangat peduli terhadap kemajuan perempuan. Agar perempuan mengenyam pendidikan lebih tinggi dan mendapatkan prestasi lebih banyak lagi.

Mengenai pilihan ini ada baiknya juga jika kita pikirkan lebih dalam. Saat memutuskan untuk menikah muda, mantapkan kembali keputusan itu. Semoga bukan keputusan yang dibuat dengan terburu-buru dan egois. Semoga saat sudah menikah nanti kita sudah accomplished segala hal yang mampu kita lakukan sendiri, membantu orang yang susah, menapaki tempat yang hebat, dan tentunya membuat orang tua kita sendiri bangga. Hingga akhirnya nanti anak kita dapat menjadi perempuan kuat yang memiliki keinginan luhur.

Apalah tau Saya mengenai pernikahan. Pastinya ibu dan eyang putri saya lebih paham. Dan tentunya senior dan teman seangkatan Saya yang sudah menikah pun lebih mengerti. Jadi jika ada kalimat yang salah, CMIIW ya cyiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s