DILINDAS

Saya masih mendengarkan lagu lewat earphone di telinga. Memegang buku untuk dibaca dan sesekali berhenti sejenak melihat pemandangan di luar jendela. Kereta berjalan cukup cepat. Tidak seperti judge Saya bahwa kereta ekonomi umumnya berjalan lambat, sering mengalah dengan kereta yang kastanya lebih tinggi. Namun kereta api Menoreh yang membawa Saya pulang dari Jakarta ke Semarang ini tampak cukup bersahabat. Bahkan Saya bisa seka (mandi ala bayi) di toiletnya. Walaupun kursinya tegak lurus 90 derajat, namun syukurlah tetap empuk.

Apalagi Saya dikelilingi polisi. Duduk di sebelah Saya adalah taruna akademi polisi yang ternyata seangkatan dengan Saya. Kemudian di kanan seberang Saya adalah seorang kawannya dan dua pendamping yang sungguh mirip bodyguard-nya Mariah Carey. Minus ukuran jumbonya saja. Saya merasa seperti Mariah Carey.

Duduk di depan Saya sepasang bule yang terlihat sedang berpetualang di Indonesia. Saya pikir yang namanya orang luar tuh kalau kemana-mana pasti baca buku. Ah ternyata sepasang orang tua romantis ini juga asik dengan gadget-nya. Beberapa kali Saya mendapati mereka menunjuk ke arah luar. Kalau Saya perhatikan terutama saat kereta sedang melewati hamparan hijau sawah atau sedang berhenti di stasiun.

Saya ikut kembali memandang ke luar jendela. Silih berganti, pemandangan bukan hanya sawah namun juga jalan raya, rumah-rumah, sungai, jembatan. Yang Saya suka dari duduk di dekat jendela dan di sisi utara adalah Saya juga bisa melihat laut dengan leluasa. Setelah pekalongan, melewati banyak hamparan luas sawah dan rumah-rumah, kita bisa melihat laut Jawa. Bahkan jarak rel kereta dan laut benar-benar dekat. Selain pemandangan yang bergantian ini, ada satu yang selalu ada sejak berangkat dari stasiun Senen. Di sebelah kereta tempat kereta Saya melaju pasti ada rel kereta lain, seringnya dua, namun kadang hanya satu jalur. Begitu akan memasuki stasiun jalurnya akan bercabang banyak. Tapi dari sekian banyak jalur itu tidak semua digunakan, tidak semua dilewati oleh kereta. Perhatikan saja, rel kereta yang selalu menemani Saya dari Jakarta ini pasti bagian permukaan yang dikenai roda kereta tampak halus dan bersinar. Sedangkan rel yang tidak digunakan pasti berkarat.

Saya jadi berpikir. Mungkin rel ini sama seperti diri kita. Jika kita terus menempa diri secara rutin
dengan terus belajar, berkarya, dan tetek bengek lain yang mengikuti seperti dicemooh, dimarahi, dicibir, dihujat, maka kita akan menjadi pribadi yang bersinar dan kuat. Sebaliknya jika kita hanya berdiam diri, anti terhadap hal yang menyakitkan namun membangun, sama seperti rel kereta yang tidak digunakan, kita akan menjadi berkarat dan rapuh.

Ah, tapi kita kan bukan rel yang tidak bisa bergerak kemana-mana. Kita makhluk punya kaki yang bisa mencari tempaan itu. Saya rasa Tuhan tidak menciptakan kaki untuk lari dari masalah. Sebaliknya, kaki ini diciptakan untuk mencari ‘masalah’.

Masa kita mau kalah sama rel kereta api?

Advertisements

2 thoughts on “DILINDAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s