IRONI DUSTA

Apa yang akan kita pilih saat dihadapi 2 pilihan: Mengetahui kebohongan orang terhadap kita secepatnya atau memilih nanti-nanti saja taunya. Sebenarnya tergantung keadaan. Namun suka tidak suka, pilihan pertama terasa lebih bijak.

Apakah dengan tau di kemudian hari akan meringankan beban ‘dibohongi’? Rasanya tidak. Apakah dengan tau di kemudian hari lantas kebohongan itu menjadi basi? Rasanya tidak. Mungkin orang yang memberitau kita bisa menenangkan dengan, “ah itu kan sudah lama terjadi, tenang saja, tidak ada yang ingat”. Namun bagi kita yang diberitau, kapanpun itu mendapatkan kenyataannya, tetap saja namanya baru tau. Baru tau kalau dibohongi. Apakah rasanya menyakitkan? Pastinya.

Misalnya dengan kasus seperti kita ternyata dibohongi oleh orang yang selama ini menjadi tenpat peraduan, tempat kembali dan berkeluh kesah. Namun kita mendapati kenyataannya dari orang ketiga. Perlukah kita mengadu ke orang terkasih bahwa kita kecewa terhadap sikapnya? Bertanya bagaimana dia bisa mendustai diri kita tanpa beban, bisa tidur nyenyak di tiap malamnya. Saya masih belum tau jawabannya. Tapi apa tujuan kita memberitaunya mengenai hal kebohongan tersebut? Jika ada tujuan yang bisa diraih, mencoba berembuk adalah pilihan yang terbaik. Dan mengkonfirmasi bawa hal tersebut benar juga salah satu hal yang harus menjadi tujuannya.

Persoalannya adalah, kita harus memaafkan. Harus bisa dengan segala kenyataan yang terjadi. Tapi, apakah semudah itu?

Seorang teman mengatakan bahwa melepaskan beban itu mudah. Ambil, kemudian lepas. Semudah itu. Dia mengajarkan bahwa menghilangkan rasa sakit itu bisa jadi dengan tidak dilawan. Tutup mata, rasakan. Rasakan sakit yang kita dapat dari dibohongi menjalar ke setiap sudut syaraf. Pada akhirnya sakit itu menjadi sebuah kenikmatan. Orgasme dia bilang. Karena memang faktanya hujan turun diiringi dengan pelangi. Terdengar klise. Tapi bahwa kesenangan datang setelah kesedihan memang benar adanya. 

Suatu hal yang juga pasti adalah bahwa orang itu berubah. Segala hal berubah di dunia ini. Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Rasa sakit dibohongi akan hilang seriring waktu. Kebencian mungkin saja berubah menjadi lelucon. Rasa tidak mampu mempercayai orang lain bisa berubah menjadi ikhlas. Kecewa bisa beralih menjadi maaf.

Tapi sejauh yang Saya tau, kayu yang dipaku dan dicabut kembali tidak akan kembali berbentuk tanpa cela seperti semula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s