Highlight 2014

Bingung. Tulisan ini harus dimulai dengan sapa atau nggak. Karena udah cukup lama sejak terakhir menulis, tapi blog ini juga blog pribadi. Ah, mari langsung aja.

Highlight tahun 2014 tentunya perjalanan Saya dan kawan-kawan ke Spanyol. Kembali Saya menemui musim gugur bersama tim kompetisi Paduan Suara almamater. Bertemu musim gugur selalu Saya tunggu, dan selalu menyenangkan sejauh ini. Meskipun tim kami kalah namun nggak menyurutkan semangat kami buat berjuang lagi.
Oh iya, itu dia highlight keduanya. Tim paduan suara kami kalah. Bukan sombong, tapi ekspektasi kami menjadi lebih besar karena sebelumnya selalu menyabet gelar juara. Saya masih ingat di Hostel, malam setelah pertandingan. Saya hampir naik ke atas kasur ketika teman Saya mengetuk pintu kamar dan mengabarkan kekalahan kami. Saya ngga kaget, namun jujur aja kecewa. Ternyata beberapa dari kami pun merasakan kecewa juga sampai nangis. Tapi kami harus tetap tegar. Menghadiri jamuan makan siang bersama juri dan peserta lain, konser di beberapa kota, dan meneruskan liburan kecil kami. Karena motivasi kami sebelumnya adalah: jalan-jalan paska kompetisi nggak akan menyenangkan kalau nggak menang.
Saya mencari hal menyenangkan lain buat mengobati pedihnya kekalahan. Akhirnya Saya mampir ke restaurant dan store-nya National Gegraphic. Saya senyum-senyum sepanjang makan walaupun Panda Rice yang Saya pesan terlalu manis. Ini dream come true! Karena Saya rasanya nggak bisa bergabung dengan tim mereka, paling nggak Saya sempat bersinggah disana. Dan untuk oleh-oleh buat diri sendiri, Saya berhasil membawa dompet original National Geographic pulang. Disebut berhasil karena Saya hampir batal beli karena nggak bawa cukup uang. Beruntung teman Saya menawarkan diri buat meminjam uangnya (iya, makasih ya Oktora S.). Kemudian setiap jam Saya memandangi dompet itu dan Saya elus-elus sebelum mengambil uang di dompet.
Hal menyenangkan lainnya adalah sehari semalam mengunjungi Cordoba. Kota Andalusia ini jadi tujuan kami karena konon peninggalannya luar biasa. Kami membuktikan sendiri, dan memang benar. Memasuki Mezquita dengan harga 8 Euro nggak pernah bikin Saya menyesal. Saya berdiri di tengah dan memandangi sekeliling yang sangat luas yang diisi dengan kapel-kapel dan ruangan utama Misa, sangat kontras dengan pilar-pilar yang bernuansa Islami. Saya berjalan ke depan dan memandangi ruang Imam yang telah dibatasi pagar besi. Saya kembali melihat ke belakang, kemudian Saya menjadi haru. Membayangkan betapa luasnya Mezquita ini, membayangkan Imam yang setelah selesai mengimami sholat berjamaah dan berbalik badan untuk menyapa umatnya. Umat yang sebanyak itu, di ruangan masjid yang seluas itu. Ini baru Cordoba, nggak kebayang harunya mengunjungi tanah suci nanti.
Jadi itu aja yang bisa Saya ceritain sekarang. Mau nonton Detective Conan dulu. Ciao!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s