Love Hate Relationshit

Saya benci banget sama transportasi di Indonesia. Sumpe. Sebel banget.

Saya pernah baca artikel tentang seorang warga negara Singapura yang menjelaskan bahwa dia senang betul dengan transportasi di Indonesia. Perihal ini dia bandingkan dengan MRT di negaranya yang tepat waktu. Tapi bagaimanapun dia senang menemukan ojek yang murah dan bisa mengantarnya ke kantor dengan cepat. Supir taksi di Indonesia dengan hati besar akan membantu seorang ibu-ibu yang kerepotan membawa barang belanjaan, sedangkan supir taksi di Singapura tidak. Saya lupa link-nya, ndak nemu di history, jadi maafkan karena ndak bisa mencantumkannya disini.

Kekesalan ini memuncak karena kejadian semalam. Biasa sih, tapi saya kesel banget naik bis 102 jurusan Lebak Bulus – Tanah Abang, menunggu hampir 30 menit bis ngetem. Bis nggak jalan, supir dan gank-nya malah nongkrong di depan Sency. Mana bau banget asap knalpotnya. Astaga, emosi saya sampai ubun-ubun. Mungkin karena bawaan kesel dari kerja juga, mungkin ya?

Udah gitu, kebiasaan supir bis ini adalah mengoper sewa. Si bis 102 ini (atau bis lainnya) akan berhenti di belakang bis lain yang sudah ngetem di pont tertentu, dan meminta penumpang untuk pindah bis. Mungkin ini bentuk kerjasama mereka, tapi saya sih udah males setiap hari disuruh pindah bis (ditambah ngetem pula!).

Belum lagi soal angkot. Kendaraan satu ini memang andalan buat menjangkau daerah perumahan. Tapi kita kudu sabaaaaar banget selama menumpang di kendaraan warna-warni ini. Mesti sabar kalau asap rokok supir sampai ke bangku penumpang, kalau supirnya berhenti di tengah jalan dan menyapa temannya (atau beli rokok, atau beli kopi gelas), kalau dia ngebut atau malah jalan terlalu lama dan setiap gang berhenti.

Jangan muluk-muluk berharap soal transportasi deh. Entah MRT yang sepik-doang itu jadinya bagaimana. Karena kita sudah terlanjur trauma sambil terpaksa menggunakan Transjakarta yang bisnya jarang, bisnya tidak diperbaiki, dan jalur yang tetap macet. Tapi mau bagaimana? Sebel pun nggak menyurutkan kita untuk menggunakan tranportasi ini kan?

Saya nggak pernah sih tinggal di luar negeri. Tapi membayangkan tranportasinya yang well-maintenanced dan disiplin kok jadi iri ya? Enak sekali mereka mempunyai kereta bawah tanah sehingga jalanan nggak penuh dengan rel. Enak sekali mereka punya trem dan bis yang bersih, selalu sedia dan teratur. Enak sekali nggak ada kumpulan angkot ngetem di negara mereka. Duh, kenapa sih mereka bisa, tapi kita nggak?

Nggak perlu lah saya bicara panjang soal sejarah negara kita dan kaitannya dengan manajemen negara yang ada saat ini. Nggak perlu juga bicara soal uang negara yang dikorupsi, padahal bisa dialihkan untuk pembangunan transportasi. Kayaknya negara kita emang diciptakan sepaket dengan angkot, Kopaja dan Metromini.

Tapi bagaimanapun juga saya butuh transportasi umum. Wong saya nggak punya motor, apalagi mobil. Daripada menuh-menuhin kota mending nggak punya kan? Padahal emang nggak ada dananya sih. Lantas bagaimana lagi caranya saya kerja dan sampai ke suatu tempat kalau nggak naik bis yang karatan, bau besi, remnya asal, ngetem terus dan dibawa ugal-ugalan?

Buat saya ini hubungan love-hate. Saya benci tapi saya butuh. Oke koreksi, need-hate relationship. Karena sungguh, kalau bukan karena keterpaksaan mana maulah saya berjibaku di dalam bis. Jujur saja, orang yang sudah punya kendaraan pribadi pun akan memilih naik mobilnya yang nyaman dan ber-AC daripada naik kendaraan umum. Saya pun nggak bisa bohong dengan mengatakan bahwa naik kendaraan membuat pribadi kita lebih kuat blablabla. Kalau saya punya mobil, ya saya maunya pergi naik mobil. Nggak perlu juga saya sok-sok mencari dan mengais sisi baik kendaraan umum di kota ini. Toh nyatanya emang nyaris nihil, bukan berarti nggak ada ya. Toh emang sebobrok itulah keadaannya, bahwa bis dan angkot ini raja jalanan, berasa bayar pajak paling tinggi sampai merasa jalanan adalah miliknya.

Nggak perlu saya menyelipkan banyak kata ‘tapi’ dalam tulisan ini, untuk memberikan penjelasan kontradiksi atas buruknya sistem transportasi umum di kota ini. Toh nyatanya memang demikian. Seperti itulah yang kita jalani setiap hari. Kenyataannya masing-masing dari kita pasti menyimpan sedikit iri dan kesal kepada mereka yang asik melenggang di jalanan ibukota dengan mobilnya yang nyaman. Kenyataan bahwa kendaraan umum di negara maju memiliki sistem yang baik memang nggak bisa kita sangkal. Betapa kita berharap ketika kita bangun tidur dan bersiap berangkat kerja nggak perlu kesal karena harus kembali berhadapan dengan bis dan jalanan yang kurang ajar. Betapa menyenangkan jika kita hanya perlu jalan kaki beberapa blok, naik kereta bawah tanah/MRT dan dalam hitungan menit sudah sampai ke tempat tujuan.

Untungnya bis saya buat berangkat ke kantor nggak mainstream seperti 213 dan AC34. Coba deh naik 102 di pagi hari. Pilih tempat duduk sebelah kanan karena matahari super terik di sisi kiri. Pakai masker dan silakan tidur sampai ke tempat tujuan. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s