#JadiBaik

Hasil perbincangan singkat dengan teman saya cukup mengesankan. Bukan ngomongin orang lain atau menertawai kelakuan orang, tapi tentang agama yang sering dikaitkan dengan perilaku sehari-hari. Sebagi catatan, jelas, ilmu agama saya cetek, begitu pun dengan teman saya ini.

Tapi benar adanya bahwa perilaku kita sehari-hari seharusnya punya pengaruh baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Jangan membunuh, jangan menghina, jangan merusak. Biarkan orang mengimani kepercayaannya, beri kebebasan pada orang untuk beribadah. Semudah itu.

Banyak orang yang membawa hal ini ke ranah agama. Jangan membunuh, tapi kalau dia menentang agamamu bunuh saja. Buat susah orang yang beribadah berbeda dengan kita, karena hal itu bertentangan dengan ajaran yang ada di kitab suci kita. Sampai disini, benarkah hal seperti itu ada toleransinya?

Mudah sekali untuk menghakimi orang lain. Dia tidak sholat, maka neraka tempatnya. Jilbabnya tidak syar’i, neraka akhirnya. Memang benar, Tuhan sudah menetapkan hukuman bagi yang melanggar aturannya. Tapi Dia saja yang berhak memberi keputusan apakah kita dosa atau tidak, bukan kita, manusia. Siapa kita punya hak untuk judge orang lain karena dia berbeda dengan kita? Kita bukan Tuhan.

Bukankah urusan keimanan adalah tanggung jawab pribadi, dan hubungannya adalah kita pribadi langsung dengan Sang Maha? Saya akan sholat karena itu merupakan cara saya untuk mendapatkan ketenangan. Saya akan memakai jilbab syar’i karena itu membuat saya lebih nyaman. Saya tidak akan membunuh karena hidup merupakan hak setiap orang. Saya akan mengurangi prasangka buruk karena hal itu buruk pada kesehatan. Semudah itu.

Moral adalah tolak ukur perilaku kita. Dan seharusnya agama menjadi pegangan kita, bukan sebagai alasan untuk menindas hak orang lain.

Editor saya adalah wanita umur 30 dan belum menikah. Pada umumnya, orang sudah berkoar menyuruhnya mencari pasangan hidup. Tapi dia tetap santai, begitupun dengan orang tuanya. Di mata saya, dia adalah wanita yang hebat, dan saya salut. Selain karena sikapnya menghadapi perihal pencarian pasangan hidup, juga karena pemikiran yang sempat dibaginya. Bahwa tiap orang memiliki pilihan. Orang lain hanya berhak memberi arahan, bukan menentukan keputusan. Menikah diatas umur sakral adalah pilihan. Menjadi single seumur hidup adalah pilihan. Menjadi gay atau lesbian adalah pilihan. Menikah muda pun pilihan. Satu-satunya tugas yang dapat dilakukan kita adalah menghargai tiap-tiap keputusan tersebut. Karena bukan tidak mungkin mereka yang memutuskan telah dan akan melewati banyak rintangan di depannya. Apakah keputusan tersebut dosa? Bukan kuasa kita menentukan dosa atau tidak. Biarkan Tuhan yang melakukannya. Tidak perlu kita mencibirnya.

Dengan segala kekurangan yang ada, kita masing-masing setidaknya mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lagi-lagi, jangan juga menghakimi orang karena perilaku baiknya tidak maksimal.

Mungkin perihal #JadiBaik bisa dimulai dari pertanyaan kecil. Apakah kita mau diperlakukan seperti kita memperlakukan orang lain?

Advertisements

One thought on “#JadiBaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s