Ketika Kamu Menjadi Kita

Ketika kamu adalah kita, maka jangan salahkan jika lampu kamar dinyalakan. Padahal gelap menjadi pilihan pribadi.

Seseorang teman di Facebook yang baru menambahkan saya dalam daftar friend listnya membuat status demikian. Intinya si teman ini tidak sabar menunggu ketika ‘kamu menjadi kita’. Dalam asumsi cinta kasih dengan lawan jenis, maka saya membuat hipotesa sendiri. Si teman ini tidak sabar menjadi satu dalam ikatan pernikahan dengan pacarnya yang sekarang.

Ah, andaikan setelah pulang dari nonton bioskop ini aku dan kamu bisa pulang ke rumah yang sama. Ah, coba saja kita sudah jadi satu, tidak perlu lagi kita keluar untuk makan, cukup kita masak-masak seru saja di rumah. Ah, kapan ya kita bisa merencanakan interior rumah bersama, tampaknya menyenangkan. Hey, mau kau namakan siapa bayi kita nanti?

Apakah menjadi ‘kita’ segitu menyenangkannya? Saya pikir tidak.

Kamu suka terang, saya suka gelap ketika tidur. Kamu suka suhu AC diatas 23 C, saya selalu menyetel di suhu 20 C. Kamu nyaman dengan kamar berantakan, saya gatal melihat barang berserakan. Kamu meninggalkan handuk di kamar, saya tidak suka melihat handuk basah tidak dijemur. Kamu sibuk, tapi masakanmu lebih enak. Aku kerja di tempat yang lebih jauh, padahal aku punya tanggung jawab mencuci pakaian yang kamu tumpuk itu.

See? Lebih banyak hal nggak enak yang bisa saya sebut?

Kata orang, cinta sepasang kasih yang kemudian jadi satu dalam ikatan pernikahan perlahan akan luntur dan tergantikan dengan kasih sayang layaknya saudara yang saling memiliki. Mami saya sendiri bilang, kalau dengan papi, beliau sudah seperti kakak-adik. Selain karena umur yang terpaut cukup jauh, 12 tahun, keadaan adalah faktor pendukung sikap mereka yang selalu supportive. Begitupun dengan eyang saya, walaupun mereka sering bete-betean, karena satu sama lain sudah berkurang daya pendengarannya sehingga tidak melakukan hal sesuai keinginan, eyang saya toh tetap bersama mengarungi hari tuanya.

Saya percaya itu. Hubungan sepasang kekasih akan berubah karena saling terbiasa dan saling mengerti satu sama lain. Hal ini juga, mungkin, yang menyebabkan ketidaksamaan dalam cara pandang hidup menjadi hal yang biasa. Kamu dan saya berubah menjadi kita, kemudian kita berubah menjadi kata yang entah mengapa selalu meluncur dari mulut begitu saja.

Tapi entahlah, apalah saya ini bicara soal hubungan setelah pernikahan.

Lalu bagaimana, masih berpikir ‘menjadi kita’ adalah sesuatu yang menyenangkan, atau sebaliknya?

Saya sepertinya akan benci menghadapi kenyataan bahwa dengan menikah, berarti saya harus berhadapan dengan keinginan yang berbeda dengan saya. Harus memaksakan diri menerima kehendak pasangan yang menurut saya diluar dugaan. Harus menyesuaikan diri – hal yang paling saya hindari.

Yang penting orang ini nantinya bisa, setelah adu mulut dan pendapat, dengan santai menemani saya jalan-jalan buat window shopping, bikinin saya masakan – seperti yang biasa dilakukannya, atau tertawa melihat kekonyolan yang ada di acara TV. 🙂

Advertisements

One thought on “Ketika Kamu Menjadi Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s