Pure 90s Gen

90s are everywheeeeeree. Padahal dulu saya nggak suka banget sama style-nya. Seriously that 90s tanktop? That loose shirt? Tapi sekarang kebalik 180 derajat. Those are there in my wardrobe.

Tentunya selain style yang grunge, banyak orang yang bernostalgia dengan era 90s. Mungkin karena di tahun-tahun ini, anak yang tumbuh di tahun 90-an sedang mencari jati diri. Ini adalah eranya kita (karena saya juga) berusia 20an sampai 30an. We know, ini adalah usia produktif. Usia pekerja, usia berkreasi dan menghasilkan. Maka nggak heran teman (padahal nggak kenal) se-almamater saya yang beda jurusan, bikin buku Generasi 90-an yang laris banget di pasaran. Ini adalah awal dari hal-hal 90s lainnya semakin menjamur. Yang jelas tren ini bikin kita bernostalgia dan kangen masa kecil.

Wait, what? Masa kecil? Itu kan jamannya duduk manis di depan TV dari jam 7 pagi. Semua ini dilakukan demi nonton Doraemon (kartun lainnya, buat saya, adalah compliance). Saya inget banget ketika satu hari Minggu saya gagal nonton Doraemon karena kesiangan. Saya lantas menangis dan bete ke ibu saya. Karena menurut saya beliau nggak bangunin, jadinya saya cuma bisa nonton Ninja Hattori. Pikir-pikir ibu saya waktu itu pasti ‘WTF-moment’ banget ya ngadepin anaknya nangis kejer gara-gara nggak nonton Doraemon?

Tahun 90an buat saya adalah ketika saya berusia SD. Sebut aja kartun Minggu pagi, Tazos, kalung leher, jepitan kupu-kupu, saya jabanin semua. Jadi inget kakak kelas saya di SD memuji jepit kupu-kupu saya, yang kemudian saya jawab dengan sombongnya: Iya ini dari eyang akoh di Jakarta (waktu itu saya sekolah di Jogja).

Banyak yang menyayangkan betapa hancurnya generasi anak kecil sekarang. Acara TV yang nggak mendidik dituding sebagai pihak yang bersalah. Adanya gadget canggih pun menjadi faktor anak-anak menjadi anti sosial dan kurang maksimal menggunakan saraf motoriknya. Lingkungan menjadi penyebab anak SD mengumbar kisah cintanya di Facebook. Termasuk juga anak bayi yang merokok, diduga salah didik dari orang tuanya – yang juga salah gaul. Belum lama ini juga kita dikejutkan dengan anak SMP yang memberikan surprise ulang tahun ke pacarnya yang anak SD (yang kemudian dibantah bahwa mereka adalah adik kakak. Like.. really? I won’t be that romantic with my bro).

Masyarakat terkejut. Kita panik. Kita geram dengan sistem masyarakat yang ada sekarang ini sehingga adik-adik kita menjadi seperti itu.

Naif. Padahal ketika kecilpun kita nggak sesuci apa yang kita umbar sekarang.

‘Ah dulu jaman SD gue cuma tau sedihnya nilai dibawah 70’, ‘dulu pas SD kayaknya yang jadi masalah cuma kita dapet kertas orji bagus apa nggak’, ‘dulu pulang sekolah kerjaan gue cuma main bola’, ‘dulu bahagia  banget dapet tas baru kalo dapet rengking’. Those are true.

Saya nggak tau sih di daerah lain gimana. Dulu saya SD sempet di Jogja 3 tahun, dan pindah ke Jakarta untuk 3 tahun sisanya. Menurut saya sih kedua kota ini cukup berlawanan, dalam artian yang satu urban banget… yang satu halus banget. Pun demikian di kedua kota ini saya tetep mengalami sendiri tuh yang namanya cinta-cintaan monyet.

So, yes, dari SD kami sudah tau yang namanya suka dengan lawan jenis. Waktu itu kita selalu nanya “eh pacar kamu siapa?”. Pertanyaan ini maksudnya adalah: kamu suka sama siapa? Walaupun malu-malu tapi ketahuan juga, entah gimana. Dulu waktu SD saya sempet suka sama kakak kelas. Kemudian pindah ke Jakarta saya suka sama teman sekelas, beranjak kelas 6 saya suka sama cowok kelas sebelah. Ternyata cewek-cewek lain juga gitu, bahkan ada yang beneran pacaran.

Ketika SD saya sudah tau istilah ‘dipake’. Gara-garanya ada teman saya yang terkenal b****y banget, pacarnya gonta-ganti, dan ada rumor yang mengatakan kalau dia dipake dengan harga seribu perak semalam. Ew. Saya sebagai anak SD normal sih waktu itu males banget dan jadi nggak suka sama cewek itu. Pun sahabat saya kala itu rela mengeluarkan uang 50.000 buat gebetan saya demi dia mau jalan sama kita. Pikir-pikir gila juga ya?

Ketika SD, saya juga sudah kenal yang namanya melabrak. Saya punya geng yang isinya 4 orang, dan turned out terkenal juga. Haha! Suatu hari geng kami dipanggil sama gengnya cool kids di WC cewek lantai 2. Gara-garanya ada tulisan provokatif di WC, dan diduga kami yang menulisnya karena ada anak kelas yang melihat kami keluar kelas membawa pensil. Tulisan provokatif apakah itu? Bukan apa-apa, cuma: Shizuka lo mending putus aja deh sama Nobita (Shizuka dan Nobita adalah nama samaran).

Ah, tapi itu belum seberapa. Bahkan ada geng lain yang lebih parah labrak-labrakannya. Dan semua ini biasanya cuma karena masalah cowok.

Hal-hal ini membuat saya berpikir bahwa kita nggak se-pure itu. Mungkin nggak semua mengalami ini, mungkin SD yang ada di ibukota aja, atau di kota besar saja, atau entahlah. Tapi lucu juga mengingat pernah mengalami hal seperti itu waktu kecil. Sekarang bisa jadi buat bahan tertawaan ke diri sendiri.

Yang penting sih tiap denger kalimat “Kamuuu makaaannya apaa?”, kita bisa sama-sama teriak “Tempe!”.

Advertisements

2 thoughts on “Pure 90s Gen

  1. Gw dulu jepit kupu-kupunya banyak banget lohhh!!
    *trus per-nya rusak kemudian tamat riwayat

    ya tapi lumayan lah sekarang ada film Bima Satria buat tontonan anak-anak (akhirnya TV yang itu ga nayangin sinetron aja)

    VIVA 90’s!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s