Jakarta City Blues

Sejauh ini total waktu hidup yang saya habiskan di Jakarta adalah 13 tahun. Kalau sejak awal tinggal saya punya bayi, sekarang bayi saya itu sudah masuk SMP.

Ini adalah beberapa hal yang saya rasakan ketika tinggal di ibukota:

1. Janjian jam 3 sore? Mungkin kamu harus berangkat jam 12 siang

Karena bener-bener hanya Tuhan yang tau kondisi jalanan Jakarta. Jangan harap berangkat jam 2 sudah cukup. Kamu nggak tau kalo jalanan lagi diperbaiki, angkot ngetem lebih lama dari sewajarnya. Kecuali kalau kamu tinggal di Slipi dan tujuanmu cuma ke Mall Taman Anggrek sih.

2. Agak impossible buat bepergian lebih dari 3 tempat.

Rumahmu di Cibubur, kamu mau ke IKEA terus makan Kemang, abis itu nganter pacar di Ciledug lalu pulang. Rencana yang manis. Tapi sayang kamu mungkin cuma bakalan beli bantal dan perintilan di IKEA lalu pulang. Paling kamu jadinya makan di Flavor Bliss.

3. Buah dari gilanya jalanan mungkin hati yang sabar.

Kadang saya berpikir bahwa orang Jakarta selalu ditempa untuk lebih sabar. Macer yang nggak bisa diurai sudah jadi makanan sehari-hari. Lewat jalan besar macet, lewat jalan tikus pun sama aja. Kalau sudah begini maju salah, mundur kena, putar balik sia-sia. Jadi mau apalagi kalau bukan terima nasib?

4. Macet yang sia-sia.

Meskipun kita nggak ingin, tapi jika penyebab macet adalah truk guling justru masuk akal. Di Jakarta macet bisa terjadi karena ada pertigaan, belokan ke jalan tikus, menghindari kendaraan yang lawan arah. Setelah melewati keruwetannya ternyata jalanan memang nggak ada masalah apa-apa. Shit man.

5. Kalau nggak penting-penting amat, jangan keluar ke jalanan jam 8 pagi atau 5 sore.

Karena itu jam pulang kantor. Kalau kamu belum terbiasa dengan siklus hidup orang kantoran, alias kamu baru jadi siswa atau mahasiswa dan nggak sengaja janjian di GI jam 6 sore buat nongkrong cantik… Selamat, kamu baru aja merasakan kehidupan kerja (yang paling remeh).

Masih banyak sih, lain kali kalau teringat bakal saya tulis lagi deh.

Anyway, Jakarta memang kampret. Tapi lama nggak kembali ke kota kejam ini rindu juga. Tampaknya orang-orang ibukota sudah terbiasa dengan bising dan crowd. Kasihan, sebetulnya.

Advertisements

2 thoughts on “Jakarta City Blues

  1. bisa hemat waktu kok kak, naik motor aja. tapi ya gitu, siap2 perang.
    ANGKOT NGETEM. kalo bisa ditilang aja semua. PELANGGAR LALU LINTAS. yang ini juga perlu banget ditilang. paralel sama tilang2an itu mending angkutan umum dibuat lebih rapi dan TEPAT WAKTU. udah itu aja kok, ga minta banyak2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s