BELAJAR HIDUP

Never judge people unless you walk miles in their shoes.
Never judge people unless you walk miles in their shoes.

Di sekolah saya nggak diajarin untuk bayar pajak, bikin CV, menghadapi orang yang merugikan kita, atau cara berkelit ketika nggak bisa bayar hutang. Kalau kata Bapak saya, itulah gunanya waktu yang kita punya dalam hidup. Buat mempelajari itu semua. Dan karena itu pula Bapak nggak pernah kasih saya pressure soal urusan sekolah. Beliau insist bahwa saya harus banyak baca buku.

Di sini saya mau share beberapa pelajaran hidup yang saya dapatkan sejauh ini.

1. Nggak perlu bilang maaf

Maaf hanya diucapkan ketika kita berbuat salah atau menyakiti perasaan seseorang. Maaf bukan kata yang digunakan untuk meminta orang menggeser badannya agar kita mendapat tempat duduk, atau meminta perhatian mereka agar mendengarkan penjelasan kita. Maaf juga tidak digunakan untuk disambungkan dengan kalimat ‘boleh tanya?’. Dan kita benar-benar tidak perlu meminta maaf atas kesalahan yang bukan disebabkan oleh kita.

2. Gadget bukan teman bicara

Saya nggak peduli sih intensitas orang berkutat di gadget-nya. Tapi kita punya hak untuk mendapatkan perhatiannya ketika kita sedang berbicara dengannya (dan kita tidak berhutang kata maaf untuk memintanya menyimpan gadgetnya). Karena salah satu hal yang paling menyebalkan di dunia adalah ketika lawan bicara kita mendengarkan kita sembari chatting di HP-nya. Atau lebih buruk lagi, sebenarnya dia cuma sedang cek Instagramnya. Dan untuk itu saya selalu berusaha untuk tidak sibuk dengan gadget ketika sedang berbicara/mendengarkan orang berbicara.

3. Waktu dan hak adalah harta kita yang berharga

Dan terhadapnya kita berhak untuk menggunakannya sesuai kemauan kita. Walaupun memang baiknya sih untuk sesuatu yang valuable. Misalnya pacar melarang kita pergi dengan sahabat karena dia tidak suka. Kita punya hak untuk tetap pergi dengan sahabat karena bukan pacar yang punya hak mutlak atas waktu kita. Dan siapa juga yang bisa melarang kita yang ingin memulai kursus Bahasa Jerman? Tidak ada.

4. Rumah besar dan mobil mewah bukanlah tujuan kita banting tulang

Bekerja dari pagi hingga malam. Senin hingga Sabtu. Berulang selama bertahun-tahun. Hasil dari pekerjaan kita tidak harus kita jadikan rumah di Simprug atau Porsche. Dan uang tersebut tidak melulu untuk biaya pernikahan. Selama kebutuhan primer kita bisa dipenuhi, tidak ada yang bisa melarang keinginan kita menggunakan uang untuk kursus bahasa, kursus menjahit, sekolah lagi, travelling, atau menyumbangkan semua ke mereka yang lebih membutuhkan. Karena kebahagiaan tidak diperoleh dari memiliki harta mewah.

5. Kita bukan Tuhan, menghakimi orang bukan kemampuan kita

Karena itu kita tidak perlu nge-judge orang lain dari wajahnya, bentuk badannya, warna kulit, pekerjaannya, perilakunya, hartanya, teman-temannya dan lain sebagainya. Simply because we don’t live on their shoes. Begitupun dengan keputusan yang dibuatnya. Kita tidak berhak menghakimi keputusan yang dipilih untuk kehidupannya. Kita sendiri nggak pernah mau kalau di-judge oleh orang lain, kan?

Gitu deh beberapa yang bisa saya bagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s