Menjadi Dewasa

Katanya, dewasa adalah ketika kita sadar bahwa Jerry is just a little bastard, while Tom is actually a house guard. Juga ketika paham bahwa meskipun nyanyiannya buruk dan suka menggebuk, Giant sesungguhnya seorang family man dan memiliki rasa setia kawan yang tinggi, berbeda dengan Suneo yang cenderung kikir dan egois. Contoh lain adalah ketika paham bahwa Disney Princess sama sekali tidak flawless. Kehidupan mereka justru klise dan tidak masuk akal.

Rese, kan?
Rese, kan?

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan. Begitu kata orang kebanyakan. Apakah di usia saya yang ke-24 ini saya lantas bisa mengatakan bahwa saya lebih dewasa dibandingkan adik saya yang berusia 21 tahun? Belum tentu. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Apakah seorang filantropi yang egois bisa serta merta kita sebut tidak dewasa? Sementara gamer berusia 30 tahunan yang tidak kunjung keluar dari kamar demi menyelesaikan misi permainannya, kita sebut dewasa atau tidak?

Sepertinya tidak ada universal measurement of being mature. Karena hal ini bisa sangat subjektif, tergantung sudut pandang yang melihat. Meskipun demikian, ada satu kesamaan dari segala tindakan seseorang sehingga dia bisa disebut dewasa.

Seorang remaja SMA yang tidak ikut study tour karena menggunakan uangnya untuk berobat sang ayah. Seorang anak SD yang dengan senang menjual bolu kukus buatan ibunya, bukan semata untuk pemasukan tambahan, namun karena dia yakin bolu buatan ibunya adalah yang paling enak. Dua sejoli yang batal melaksanakan resepsi pernikahan di gedung dan sepakat mengadakannya secara sederhana di rumah demi kakeknya yang sudah tidak sanggup berjalan jauh. Anak berusia 5 tahun yang sudah bisa merapikan kasurnya sendiri. Kakak dan adik yang tidak lagi berebut saat ada sebuah cake coklat di depan matanya. Pasangan kekasih yang bisa saling menerima satu sama lain meskipun hal tersebut sangat bertentangan dengan dirinya masing-masing.

Bukan umur yang menentukan. Namun salah satu hal yang bisa membuat kita dewasa adalah ketika kita mau mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan orang lain. Tidak egois dan tulus dalam melakukannya. Seperti hal ini bisa menjadi salah satu pertimbangan sehingga seseorang bisa dikatakan sudah dewasa dalam tindakan.

Sebenarnya tulisan ini adalah bentuk curahan hati saya yang sungguh sedih karena bulan puasa tahun ini memutuskan untuk tidak pulang ke rumah di Semarang barang 3 atau 4 hari. Ada keperluan lain yang lebih mendesak. Ada hal yang lebih pantas diprioritaskan daripada menghabiskan uang sejumlah 475.000 rupiah untuk kepulangan yang bahkan tidak sampai seminggu.

Jadi, boleh saya menghadiahi diri saya sendiri sebuah titel ‘Cukup Dewasa’ atas keputusan saya ini? ‘Cukup’ saja sudah cukup, karena saya sedikit ngotot agar keluarga saya yang di Semarang bisa segera ke Jakarta dalam waktu dekat.

Selamat menjadi dewasa!

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi Dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s