Jogja Buat Saya

Enam tahun masa kecil saya dihabiskan di kota pelajar, Jogja. Buat saya, merupakan sebuah paduan sempuran antara masa kecil dan kota Jogja.

Katanya Jogja adalah kota cinta. Sekali kita pernah menghabiskan beberapa tahun tinggal disana, maka selamanya Jogja akan selalu menjadi kota yang kita rindukan, kita selalu akan ingin kembali untuk sekedar mengenang masa lalu. Karena tiap sudut kotanya indah dan penuh dengan kenangan yang terlalu manis.

Sampai usia 10 tahun saya tinggal di Jogja. Tepatnya di kaki gunung Merapi, KM 7 Kaliurang. Saya tinggal dengan papi, mami, adik yang masi piyik, om yang sedang kuliah di UII jurusan ekonomi, juga kerabat jauh yang juga kuliah di UGM jurusan MIPA. Tinggal dengan kami juga dua mbak yang membantu menjaga adik juga membantu mami membersihkan penjuru rumah. Rumah kami kontrak, tidak tingkat, namun panjang ke belakang. Di sebelah kiri kami adalah tetangga yang mainan mobil-mobilannya selalu bikin iri adik saya. Di sebelah kanan adalah lapangan kecil tempat kandang kambing. Kenapa kambing? Karena depan saya adalah rumah Pak Basir (namanya sama kayak bapak saya btw). Pak Basir jualan daging kambing untuk aqiqah dan acara lainnya.

Lingkungan rumah kami hangat sekali. Saya juga jadi ingat mami pernah buka warung gado-gado di ruko yang tidak jauh dari rumah. Saya sering sekali nongkrong disana minum teh manis hangat. Tiap sore saya mengaji di TPA dekat rumah. Dan untuk mencapai ke masjid, saya kudu melewati lapangan yang isinya kambing dan cempe (anak kambing). Kambingnya sih anteng. Tapi cempenya itu nggak akan sungkan untuk mengejar anak-anak yang lewat. Ini yang bikin saya males ke TPA. Alasan.

Sebelumnya saya bersekolah di SD Bangirejo. Kalau nggak salah di sekitar jalan C. Simanjuntak. Saya nggak dapat kursi di SDN Ungaran yang terkenal itu sayangnya. Karena nanggung, orangtua saya memindahkan saya untuk bersekolah di dekat rumah, yaitu SD Kentungan. Padahal saya maunya SD Condongcatur karena nama ‘Kentungan’ kurang cool. Demikianlah kepindahan saya yang cepat. Tiap pagi saya diantar mami, mbak dan adik jalan kaki ke sekolah. Kalau nggak diantar mami naik mobil. Manja ya? Biarin. Habisnya ada cempe sih.

Tapi mungkin saya dulu emang ciwek (cengeng). Saya masih ingat wajah mami yang terlihat dari balik jendela yang perlahan berjalan menjauh dari kelas ketika hari pertama saya masuk sekolah di sekolah baru. Juga nangis karena sahabat saya saat TK main dengan teman yang lain yang bandel. Ketika itu saya merasa dia mengkhianati saya.

Seminggu dua kali, mami juga akan mengantar saya ke IKIP untuk les berenang. Dari nggak suka, malas, lama-lama mau nggak mau, kemudian senang-senang aja. Soalnya guru les saya, Pak Bambang namanya, memberi saya coklat Fonnut. Di kolam renang juga banyak jajanan. Mami selalu membelikan saya risol atau martabak kecil setelah saya berenang. Kalau tidak ya makan nasi goreng sambil minum teh kotak. Bau kolam renang IKIP masih jelas teringat sampai sekarang. Juga bau kamar mandinya. Bau Biore merah atau yang ungu, Lifebuoy merah juga. Dan kami anak-anak juga selalu memakai cream Johnson’s sebelum berenang. Makanya sekarang saya masih suka pakai sabun itu.

yang ini lho
yang ini lho

Sekarang saya baru sadar bahwa waktu berenang itulah yang sebagian banyak membuat saya merindukan Jogja, dan kerap merepresentasikan banyak hal dengan perasaan saya ketika di Jogja. Sepeti bau sabun yang tadi saya sebutkan juga cream Johnson’s yang selalu mengingatkan saya pada masa kecil di Jogja. Atau lagi Gigi yang Janji dan Dan-nya So7 yang selalu dimainkan di radio ketika mami mengantar saya les berenang, hingga sekarang kedua lagu itu selalu berhasil membuat saya mengingat kota Jogja. Atau alunan karya Dying Young-nya Kenny G, yang mengingatkan saya pada malam-malam dimana papi membawa saya dan adik ke toko buku Gramedia di daerah Kota Baru.

Ah, masih banyak lagi sepertinya yang bisa saya ingat. Seperti manisnya Chocoball yang dijual di toko kue istrinya Ustadz Zainuddin MZ. Bau ruangan tempat jahit langganan mami di samping Galeria. Ramainya toko pakaian Ginza. Lagu Lambada yang sering disetel di pelataran Malioboro. Atau bau kencing kudanya. Atau lame joke-nya anak-anak yang seperti ini: Aku tiap malem ke mol dong! | Ke mol apa? | Kemolan! Hahahaha (kemulan = selimutan).

Nggak lupa TK Syuhada yang menjadi institusi pertama saya bersosialisasi. Manasik haji, main angklung, sebel karena dicengin sama anak cowok, masih bisa saya ingat jelas. Bu Ning yang galak, Bu Siti yang baik, tempat bermain yang suka bau tai kucing, wisuda TK dimana saya ikut naik ke panggung padahal yang dipanggil ke panggung cuma teman-teman saya yang punya prestasi baca Al-Qur’an.

Walaupun sekarang sih saya lebih memilih kembali pulang for good ke Semarang daripada ke Jogja, tapi hangatnya kota pelajar ini memang nggak akan bisa dilupakan.

Advertisements

2 thoughts on “Jogja Buat Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s